MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA


A.      Latar Belakang Masalah

Menurut Sudarwan Danim, masalah serius yang terjadi di sekolah- sekolah saat ini, besar atau kecil, disebabkan oleh masalah-masalah manajemen, khususnya masalah manajemen kelas. Ringkasnya, esensi dan ekstensi manajemen kelas dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang kondusif tidak lagi di dudukan pada posisi sekunder, melainkan menjadi pemeran utama. Pemikiran ini menuntut adanya cara dan metode bagi guru untuk mengelola kelasnya secara efektif dan inovatif. Hasil penelitian yang relatif kontemporer mengenai manajemen kelas merekomendasikan beberapa metode inovatif atau orientasi baru yang menjadi fokus kerja manajemen kelas.
 Kendati pengelolaan kelas merupakan salah satu tugas pokok guru di dalam kelas, masih banyak guru yang kurang bahkan tidak memperhatikan pengelolaan kelas. Tanpa pengelolaan kelas yang baik, akan menimbulkan masalah yang berhubungan dengan perilaku peserta didik atau disiplin kelas. Masalah atau penyimpangan yang sering terjadi di kelas antara lain ribut, bercakap-cakap sendiri, pergi ke sana ke mari, bermusuhan, saling mengucilkan, merendahkan kelompok yang bodoh, Kurangnya kekompakan, dan sebagainya. Muhammad Yusuf mengungkapkan bahwa siswa sebelum masuk kelas memiliki berbagai macam persoalan, baik terkait dengan diri sendiri atau teman. Tidak jarang dijumpai siswa setelah jam istirahat masih asyik berbincang dengan temannya soal permainan saat istirahat atau soal acara televisi semalam.
Perilaku yang tidak disiplin pada waktu proses belajar mengajar dan mengganggu proses belajar mengajar amatlah memprihatinkan. Padahal jumlah peserta didik yang seperti itu tidak sedikit dan selalu ada di setiap kelas atau setiap angkatan. Jika masalah-masalah tersebut terjadi dalam kelas, maka kondisi kelas tidak lagi optimal yang tentunya akan mengganggu pencapaian tujuan belajar.


B.      Kebijakan Penanganan Masalah Dalam Kelas
 Ahmad rohani (2004: 127) berpendapat bahwa Dimensi pencegahan dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan, dan lingkungan sosio emosional

          a.  Kondisi dan situasi belajar mengajar
1. Kondisi fisik : ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, pengaturan tempatduduk, ventilasi dan pengaturan cahaya, pengaturan penyimpanan barang barang, 
2. Kondisi sosio emosional: tipe kepemimpinan, sikap guru, suara guru, pembinaan raport, 
3. Kondisi organisasional : pergantian pelajaran, guru berhalangan hadir, masalah antar peserta didik, upacara bendera, dll
b. Disiplin dan tata tertib
1. Memahami disiplin
2. Sumber sumber pelanggaran disiplin
3. Penanggulangan pelanggaran disiplin: pengenalan peserta didik, melakukan tindakan korektif, melakukan tindakan penyembuhan,
4. Tertib ke arah siasat.


C.      Macam-Macam Permasalahan Dalam Manajemen Kelas

                       Menurut Mulyadi timbulnya masalah dalam manajemen kelas dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1.       Faktor guru
Beberapa faktor penyebab timbulnya masalah dalam manajemen kelas yang berasal dari guru diantaranya:
a.       Tipe kepemimpinan guru yang otoriter
b.      Format belajar mengajar yang monoton
c.       Kepribadian guru
d.      Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya.
2.       Faktor siswa
Kekurangsadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas dapat merupakan faktor utama penyebab masalah manajemen kelas.
3.       Faktor keluarga
Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga, seperti tidak patuh pada disiplin, tidak tertib, kebebasan yang berlebihan ataupun dikekang berlebihan akan menyebabkan siswa melanggar disiplin di kelas.
4.       Faktor fasilitas
Ruang kelas yang kecil dibanding dengan jumlah siswa dan kebutuhan siswa untuk bergerak dalam kelas merupakan salah satu problema yang terjadi pada manajemen kelas.


D.      Solusi dalam mengatasi permasalahan manajemen kelas

Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:

a.       Behavior – Modification Approach (Behaviorism Approach) : 
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberianpositive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif).Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.

b.      Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : 
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agarcommitted terhadap rencana yang telah dibuat memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnyaDemocratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.

c.       Group Process Approach : 
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c)attraction (pola persahabatan); (c)norm; (d) communication; (d)cohesiveness.

d.      Pendekatan Otoriter : 
Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisiplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.          Perintah dan larangan
2.          Penekanan dan penguasaan
3.          Penghukuman dan pengancaman
4.          Pendekatan perintah dan larangan

e.      Pendekatan Permisif : 
Pendekatan yang permisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu. Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.       Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.       Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
3.       Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.       Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
5.       Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6.       Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
f.        Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : 
Sekali lagi pengajar memandang peserta didiktelah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar. “Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas. Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun. Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah. Kedua pendekatan ini pun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul. Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.




Daftar Rujukan

Ekosiswoyo, Rasdi. 2000. Manajemen kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press

Bahri Djamarah, Saiful. 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka cipta.



Komentar

Posting Komentar